Senin, 06 Mei 2013

Real Time Faith-VIII-II-2013-Murid



Senin
18 Mei
Logos
Berbicara Dengan Sederhana

Sejak awalnya, Allah memiliki kerinduan untuk berkomunikasi dengan anak-anakNya. Bahkan sejak kejatuhan manusia, Dia menyediakan berbagai metode komunikasi untuk membuat kita mengetahui maksud-Nya. Dia menggunakan bahasa dan istilah yang menembus kapasitas kita yang terbatas untuk mengerti hal-hal kerohanian dan yang menembus hati yang bebal.

“Betapa luar biasanya hal itu, di tengah pemberontakan kita, Allah tidak meninggalkan kita.”

Dalam kitab Hosea, Allah menggunakan berbagai kiasan untuk menolong bangsa Israel mengerti kondisi kerohanian mereka. Bahkan hingga hari ini, kiasan-kiasan, analogi, dan perumpamaan ini menghubungkan pembaca atau pendengar kepada kebenaran rohani yang mendasar. Sebagai tambahan dari kiasan suami-istri di minggu lalu, Allah bermaksud membuka mata umat-Nya melalui gambaran ini.

Merpati yang tidak berakal (Hos. 7:11, 12; Prov. 1:4)
Dalam Hosea 7, Allah merujuk kepada merpati yang berpikiran sempit untuk menggambarkan kesembronoan umat-Nya. Ini adalah seekor burung yang merasa memiliki sedikit akal sehat. “Kepolosan yang sama sekali sederhana dari burung merpati yang terbang tepat ke arah jaring si penangkap burung, tanpa menduga atau mengamati (Ams. 1:4), digunakan sebagai perumpamaan dari kebodohan Efraim.”1 Israel telah meminta pertolongan kepada orang-orang kafir, gantinya meminta kepada Allah. Perlahan mereka menyadari bahwa dengan menolak Allah, mereka menempatkan diri mereka di tempat yang menuntun mereka pada kehancuran. 
Kita tidak boleh mengulangi sejarah Israel. Jadilah bijak, bukan dungu, karena dengan cara yang dungu kita menjadi tak berakal dan mudah terjerat. Dengan menjadi bijak melalui takut akan Tuhan, pemikiran dan tindakan kita akan menggenapi “yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah| (Roma 12:2)

Anak Lembu Yang Terlatih (Hos. 10:11–13; Matt. 11:28–30)
. Dalam Hosea 10 Kita dapat menemukan Allah menggunakan gaya hidup pertanian untuk menggambarkan kondisi yang Israel alami sebagai hasil dari dosa mereka. Pada zaman dahulu, lembu jantan biasanya digunakan untuk mengirik gandum “dengan cara menginjak-injak dengan kaki mereka atau melalui menarik kereta pengirik.”2 Berdasarkan gambaran ini, Tuhan mengatakan kepada Israel bahwa Dia akan memasang kuk di leher mereka (Hos. 10:11). Kemudian di ayat 12, “Hosea menyajikan panggilan untuk bertobat dan untuk berubah kepada pertobatan yang sesungguhnya. Allah menjamin umat-Nya apabila mereka memberikan hidupnya kepada kehendak-Nya, dan memperlakukan sesamanya dengan adil, mereka akan menerima upahnya.”3

Sudah berapa kali kita jatuh ke siklus yang sama? Kita mempercayai diri kita sendiri dan hal-hal duniawi, gantinya percaya kepada Allah. Dan kita berjalan dengan kuk yang berat di leher kita, bayangkanlah mengapa kita mengalami keadaan yang tidak menguntungkan. Namun meskipun demikian, Allah memanggil kita kepada kebebasan.” Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Mat. 11:28-30). Ini bukanlah sebuah saran namun sebuah panggilan untuk menggunakan kuk Kristus, gantinya kuk dunia.

Anak Kecil yang Baru Belajar Berjalan  (Hos. 11:1, 3)
Dalam Hosea 11:1,3, kita menyaksikan keintiman yang dapat terjadi antara Allah dan umat-Nya. Dalam ayat ini, Allah merujuk umat-Nya sebagai anak-Nya. Betapa luar biasanya hal itu, di tengah pemberontakan kita, Allah tidak meninggalkan kita. Dia mengajarkan kita bagaimana berjalan dalam jalan-Nya. Dia memulihkan kita dari pelanggaran kita. Dan saat kita tersesat, Dia dengan sabar membimbing kita dengan kasih yang lembut dan disiplin yang membangun karakter kita (Ibr. 12:6)

Kasih Allah yang Besar (Hos. 11:8, 9; Rom. 5:8)
Kita tidak bisa melupakan bahwa di tengah kemarahan Allah yang berbudi kepada Israel, Dia selalu siap memberikan pengampunan dan belas kasihan. Bahkan di tengah dosa dan pemberontakan kita yang mengerikan, Allah menunjukkan kasih-Nya melalui karunia Anak-Nya (Rom. 5:8). Marilah kita mengakui bahwa kasihnya kepada kita adalah tidak terpahami dan jauh di luar imajinasi kita. Apa yang harus kita lakukan adalah percaya bahwa kasih-Nya kepada kita adalah nyata dan kasih-Nya menyediakan kita pengalaman untuk merubah hidup kita.

REAKSI
1. Kiasan apa yang bisa kamu gunakan untuk menggambarkan perjalananmu dengan Allah?
2. Dengan cara seperti apa Allah telah sabar terhadapmu?
3. Bagaimana kamu dapat merespons ungkapan kasih Allah kepadamu?

----------------------------
1. The SDA Bible Commentary, vol. 4, 2nd ed., p. 907
2. Ibid, p. 919
3. Ibid


Daniel Ortega, Tulsa, Oklahoma, U.S.A.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar