Jumat, 20 Juli 2012

SSCQ-4-III-2012


Satu dan Dua Tesalonika
Pelajaran Keempat Kwartal 3,
Bergembira dan Bersyukur
21—28 Juli 2012
Diterjemahkan Oleh: Glenn Simanjuntak
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian
Sirkulasi: Janette Sepang

cq312_04.jpg“Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami. Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.” (I Tes 1:2, 3)


Sabbath
21 Juli
I Tes. 1:1-5
Pendahuluan
Kembali Fokus

Saya menulis berdasarkan jadwal yang ditentukan dan berusaha untuk menyelesaikannya tepat waktu.  Akan tetapi, konsentrasi saya menurun dan mata saya mulai memandang barisan dari “icon” di bawah layar laptop saya.  Mereka seperti barisan permen yang menggiurkan di dalam kotak.  Ditekan.  Pesan: “Hello, Hannah.  Bolehkah kita bertemu untuk makan siang pada hari Kamis?”

Satu email berkelip-kelip di dalam “inbox” saya.  Mungkin ada diskon di toko kesenangan saya

Saya sedang membantu untuk menulis satu buku tentang Kedatangan yang Kedua Kali.  Saya berharap ini akan mengikutsertakan generasi yang ingin tahu, tidak percaya, dan mementingkan diri sendiri.  Ini merupakan proyek yang sangat menarik.  Akan tetapi, ini akan memakan waktu lama dan saya kehilangan energi.  Tekan.  Gempa bumi di Jepang adalah salah satu gempa terkuat yang pernah tercatat.  Sistem keamanan reactor nuklir tidak berfungsi lagi.  Lebih dari seribu orang hilang.”
Saya mulai mengetik kembali.
Dunia tidak akan lama lagi ada.  Tidak mungkin untuk mengabaikan bagaimana tidak berdaya kita ini.  Tuhan mengasihi kitak, dan Ia mempunyai satu rencana.
Satu email berkelip-kelip di dalam “inbox” saya.  Mungkin ada diskon di toko kesenangan saya.  Tekan.  Oh, ada email dari Paul.  Sudah lama sekali saya tidak pernah dengar dari dia.  Mungkin dia mau membantu saya dengan buku ini.  Tekan.
“Anak yang kukasihi, saya tidak dapat berhenti berterimakasih dan memuji Tuhan untuk engkau!  Apakah kamu tahu kalau saya menyebut namamu di dalam doa-doaku setiap hari?  Sangat menggembirakan bagi saya untuk tahu bahwa kamu dengan sepenuh hati percaya akan proyek ini, dan tetap bekerja untuk ini.  Saya tidak dapat sangkal kalau ini adalah salah satu proyek yang paling susah.  Tetapi pekerjaanmu diinspirasi oleh kasih bagi Tuhan dan bagi orang-orang di sekeliling mu yang tidak mempunyai pengharapan seperti kamu – bahwa Yesus akan dating kembali.
“Saya mau supaya engkau tahu bahwa saya mempunyai iman dalammu, karena saya mengasihimu.  Saya telah melihat kamu bertumbuh, dan saya tahu kalau kamu tidak akan pernah kehilangan iman di dalam Tuhan.”
“Kamu pasti memikirkan akan batas waktu.  Saya juga tidak tahu tanggal tersebut.  Ini proyek yang terus berjalan – seumur hidup.  Percayalah kepada Tuhan untuk menginsiprasimu, dan Dia akan mempersiapkan kepadamu batas waktuNya.  Ia menuai kita di dunia ini – menampi proyek dengan bermacam-macam cara.”
Dorongan Paul mem-fokuskan kembali apa yang paling penting.  Saya memutuskan hubungan internet ke laptop saya, menyembunyikan “application bar”, dan kembali dengan energy yang baru untuk pekerjaan yang paling penting dalam hidup ini.

Karen Holford, Auchtermuchty, Skotlandia

Minggu
22 Juli
Bukti
Hasil-hasil Yang Bagus
I Tesalonika 1:1-10

Guru-guru tahu bahwa tidak ada yang dapat memotivasi seorang murid lebih dari satu hadiah untuk pekerjaan atau kelakuan yang baik.  Bayangkan kalau itulah yang orang-orang Tesalnika rasakan ketika mereka mulai membaca surat-surat yang ditulis oleh Paulus, Silas, dan Timotius.
Paulus dan Silas adalah bapak rohani bagi orang-orang Kristen Tesalonika.  Dalam Kisah 17:1-9 kita dapati kalau mereka pergi ke Tesalonika ketika mereka berdebat dengan orang-orang Yahudi selama tiga Sabat berturut-turut.  Sebagian besar dari mereka, termasuk banyak orang Gerika, menjadi orang Kristen (Kisah 17:4).

Apakah yang Paulus katakan tentang jenis iman, kasih, dan pengharapan?

            Oleh karena itu, Paulus, Silas, dan sekarang Timotius berterimakasih atas jalan yang “gereja mula-mula” yang baru di Tesalonika bertumbuh.  Hal penting yang patut diperhatikan adalah Paulus berterimakasih kepada Tuhan atas iman, kasih, dan pengharapan yang menggema di dunia Kristen saat itu.  Ini sangat penting.  Buah-buah baik yang kita hasilkan adalah hasil dari pekerjaan Tuhan di dalam kita, bukan satu hasil dari pekerjaan kita sendiri, atau pekerjaan pendeta kita.  Tuhanlah yang menghasilkan iman, kasih, dan pengharapan di dalam kehidupan orang-orang yang dulunya adalah penyembah berhala (I Tes. 1:9).
            Apakah yang dikatakan Paulus akan iman, kasih, dan pengharapan?  Ia menerangkan semuanya sebagai “pekerjaanmu yang penuh iman, pekerjaan kasih, dan kesabaran atas pengharapan di dalam Tuhan kita Yesus Kristus” (I Tes. 1:3).  Apakah Paulus, yang mana di beberapa tempat membandingkan antara keselamatan orang iman dan keselamat oleh pekerjaan, hanya mengatakan “pekerjaan akan iman”?  Leon Morris mengatakan bahwa “ketika Paulus menekankan bahwa keselamatan adalah semuanya dari Tuhan, Ia juga menekankan bahwa iman itu sibuk.”*
            “Pekerjaan kasih” berarti lebih dari hanya beberapa sikap baik di sini dan di sana.  Bahasa Gerika “kerja (labor)” (kopos) berarti usaha yang terus menerus dan kesukaran demi kasih.  Bahasa Gerika yang kita terjemahkan dari “kasih” adalah agape, yang mana adalah satu kasih yang hanya datang dari Tuhan dan mencari untuk memberikannya terlepas dari nilai orang tersebut.  Kasih seperti ini menantang keadaan kita sebagai manusia.  Akhirnya, “kesabaran akan pengharapan di dalam Tuhan kita Yesus Kristus” adalah satu pengharapan yang ditujukan kepada kedatangan Yesus yang kedua kali.  Di dalam I Tesalonika 1:8 Paulus menulis bahwa iman mereka menjadi terkenal di banyak tempat sehingga ia sendiri, Silas, dan Timotious tidak perlu menyebut apa-apa.  Tindakan mereka berbicara lebih besar dari perkataan!

REAKSI
Apakah Paulus akan gembira dan berterimakasih bila ia datang menjenguk gereja saudara atau dirimu sendiri?  Mengapa atau mengapa tidak?

*Leon Morris, 1 & 2 Thessalonians: An Introduction and Commentary/1 & 2 Tesalonika: Pengantar dan Komentar (Nottingham: InterVarsity Press, 1984), p. 43/hal. 43

Filip Bajic, Galston, East Ayrshire, United Kingdom

Senin
23 JULI

Daniel 12:2; I Kor. 13; Gal 5:19-23; I Tes. 1; I Tim. 1:15
Logos
Dasar Untuk Berterimakasih

Karena Itulah yang Benar!  (I Tes. 1:3; I Kor. 13:13)
Paulus mempunyai beberapa hal yang menantang yang Ia mau katakan bagi orang-orang Tesalonika, tetapi ia tahu bahwa ia perlu untuk pertama-tama berinteraksi dengan mereka dengan menguatkan dan menghargai mereka.  Mengetahui bahwa ia bergembira di tengah-tengah mereka akan membuat segala sesuatu lebih mudah untuk mendengar kata-kata keras yang ada di suratnya.  Ia mau mereka tahu bahwa masalah-masalah apa saja yang mereka bawa dalam kehidupan mereka, mereka tetap membawa kesenangan.

Di dalam kerajaan Tuhan, kegembiraan dapat didapati di tempat-tempat yang tidak disangka.

            Paulus dengan bijaksana mengambil satu langkah besar ke belakang untuk mengintrospeksi dirinya akan kesalahan-kesalahan mereka supaya dapat melihat lebih jauh.  Benar, ada hal-hal yang perlu diperbaiki; tetapi mereka tetap berada di jalur yang benar, dan itulah hal yang sangat penting.  Kegembiraannya datang dari mengenal bahwa “anak-anak bayi” yang ia bawa kepada Kristus telah bertumbuh dewasa menjadi orang-orang percaya yang setia dan kasih.  Mereka telah bertumbuh besar secara rohani, dan ia tahu bahwa ini hanyalah benar untuk berterimakasih kepada Tuhan atas pertumbuhan mereka (2 Tes. 1:3, 4).  Paulus secara spesifik berterimakasih atas iman, pengharapan, dan kasih mereka – koleksi yang terikat dengan dekat atas konsep-konsep yang ia percaya adalah di tengah-tengah kehidupan orang Kristen.
            Setiap orang Tesalonika yang percaya dapat menggambarkan kegembiraan di waja Paulus ketika surat tersebut dibacakan.  Lebih lagi, setiap orang Tesalonika tahu bahwa apa saja yang dikatakan Paulus, adalah karena ia mengasihi mereka.

Karena Allah Mengatur Segala Sesuatu (Mat. 5:3-12; Roma 8:28; I Tes. 5:16-18)
Di dalam kerajaan Tuhan, kegembiraan didapati di tempat-tempat yang tidak disangka.  Kegembiraan tidaklah merupakan apa yang kita punya, siapa kita, pekerjaan kita, atau bahkan apa yang sedang terjadi di sekeliling kita.  Hadiah Tuhan akan kegembiraan melebihi kesakitan dan tantangan yang kita hadapi.  Di tengah-tengah kegembiraan adalah keamanan yang kita dapati di dalam kasih Tuhan yang tidak berkesudahan bagi kita.  Ia bekerja untuk kebaikan semua orang yang mengasihiNya (dan juga bagi mereka yang tidak).
            Mengetahu bahwa Tuhan peduli akan setiap aspek dari kehidupan kita, member kita kegembiraan akan dasar yang kuat.  Kasihnya yang terus menerus member kita pandangan yang berbeda akan hidup.  Ini bukanlah mengenai apa yang terjadi bagi diri kita sekarang.  Akan tetapi, ini adalah mengenai Tuhan yang menggunakan apa yang terjadi untuk menolong kita berbuat sesuai dengan rupaNya.
           
Karena Roh Kudus Berubah (Gal. 5:19-23; I Tes. 1:9)
Orang-orang percaya di Tesalonika tahu dengan jelas akan arti dari kehidupan seorang penyembah berhala (I Tes. 1:9).  Mereka tahu bahwa itu bukanlah tempat senang (Gal. 5:19-21).  Banyak orang yang masih mencari kesenangan di dalam kehidupan kepentingan diri sendiri dari tuna susila, kerakusan keuangan dan harta benda, ambisi, pesta pora, obat, dan alkoho.  Ketika Roh Kudus mengisi kehidupan kita, kia menemukan kegembiraan autentik yang datang dari ketidak mementingkan diri sendiri yang menggunakan buah-buah roh untuk menolong orang lain mengalami dalam dan tingginya kasih Tuhan.  Kita mengalami kegembiraan ketika kita memperlakukan orang lain dengan kebaikan dan rasa hormat.  Pertentangan dapat dirubah dengan perdamaian.  Kejengkelan dapat dirubah dengan kesabaran.  Kecanduan dan marah dapat dikalahkan dengan pengendalian diri, dan kebencian dan kejahatan dapat diselesaikan dengan kasih.

Karena Iman Merubah Segala Sesuatu (I Tes. 1:4, 5: I Tim. 1:15)
Mungkin tidak adalah pengalaman yang lebih indah dari mengenal bahwa Tuhan kasih dan menerima kita sebagaimana kita ada, bahwa ketika kita adalah orang yang paling berdosa.  PengampunanNya mengundang kita untuk membalasnya dengan mengasihiNya dan pecaya padaNya.  Setelah hidup di dalam kehidupan menyembah berhala, orang-orang Tesalonika mereka bahwa merekalah orang yang paling berdosa.  Iman dalam Tuhan yang menerima, mengasihi, dan mengampuni akan terus menerus membebaskan kita dari keselahan kita di masa lalu.  Iman orang-orang Tesalonika yang tidak tergoyahkan dalam kasih dan pengampunan Tuhan, dan bersama dengan kuasa Roh Kudus, akan membantu mereka untuk berubah sebagaimana Paulus telah tunjukkan kemauan Tuhan bagi mereka.

Karena Iman Hidup (Dan. 12:2; I Tes. 1:8-10)
Pengharapan secara alami mengikuti ketika kita mempunyai iman di dalam Tuhan dan percaya akan janji-janjiNya.  Kita tidak perlu taku akan masa depan karena kita tahu kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu.  Bahwa, kebangkitan dari kematian adalah permulaan dari pengalaman hidup yang baru.  Orang-orang percaya Tesalonika mempunyai kepercayaan kuat akan kedatangan Yesus yang kedua kali.  Kepercayaan ini terkenal di antara orang-orang percaya.  Kehidupan sehari-hari mereka dibentuk berdasarkan pengharaan akan kebangkitan dan hidup baru di surge.

Karena Kasih Bekerja (I Tes. 1:3; 1 Kor. 13)
Paulus tahu bahwa kasih Tuhan adalah kekuatan di belakang dari pengijilannya bagi gereja Tesalonika.  Kasih Allah menolong mereka untuk mengasihi satu dengan yang lain.  Ketika hati kita penuh dengan pengalaman dengan kasih Tuhan, maka kasih Tuhan akan mengalir dari kehidupan kita ke kehidupan orang lain.  I Korintus 13 menerangkan akan kasih Tuhan bagi kita, kasih yang kita perlu alami dari Dia supaya kita dapat hidup dalam hubungan satu dengan yang lain, karena “yang paling penting dari semua ini adalah kasih” (I Kor. 4:13).

REAKSI
  1. Apakah yang membuat saudara sangat gembira: iman di dalam Tuhan; pengharapan akan Kedatangan yang Kedua Kali; atau kasih yang diinspirasi oleh Tuhan bagi orang di sekeliling?
  2. Paulus mengatakan bahwa iman, pengharapan, dan kasih adalah penting dan kasih adalah yang paling penting dari ketiga hal tersebut.  Bagaimana iman, pengharapan, dan kasih dapat berinteraksi dan membatu satu dengan lainnya di dalam kehidupan saudara?

Bernie Holford, Auchtermuchty, Skotlandia

Selasa
24 JULI

Kesaksian
Diisi dan Diinspirasi
I Tes. 1:8

“Tinggal di dalam kualitas bagus dengan siapa kita berhubungan, dan melihat kesalahan dan kegagalan seminimal mungkin.  Ketika dicobai untuk mengkritik apa yang seseorang katakan atau lakukan, biarlah kita memuji sesuatu akan kehidupan atau karakter orang tersebut.  Tumbuhkan rasa bersyukur.  Pujilah Tuhan akan kasihNya untuk member Kristus mati bagi kita.  Tidak ada artinya untuk memikirkan keluh kesah kita.  Tuhan memanggil kita untuk memikirkan kasih karuniaNya dan kasihNya yang tidak ada duanya, sehingga kita dapat diinspirasi dengan pujian.”1

“Roh Kudus membuat kembali, memurnikan kembali, dan menyucikan manusia …”

            “Oleh karena iman sehingga kita dapat melihat ke depan dengan segala beban dan kepedulian yang ada, dan segala hal yang membingungkan akan dibuat menjadi polos.  Iman melihat Yesus berdiri sebagai Penengah kita di sisi kanan Tuhan.  Iman melihat tempat yang Kristus telah pergi menyiapkan bagi mereka yang mengasihiNya.  Ima melihat jubah dan mahkota yang disiapkan bagi mereka yang menang dan mendengar lagu dari orang-orang yang ditebus.  Iman bukanlah satu perasaan. ‘Iman adalah hal yang kita harapkan, dan bukti yang tidak dapat kita lihat.’”2
            “Roh Kudus membuat kembali, memurnikan kembali, dan menyucikan manusia, mempersiapkan mereka menjadi anggota keluarga raja, anak-anak dan Bapa di surga …. Buah-buah Roh adalah ‘kasih’, bukan kebencian, ‘kesenangan’, bukan ketidakpuasan dan kesedihan; ‘damai’, bukan iritasi, kegelisahan.  Sabar, lemah lembut, kebaikan, iman, tidak cepat marah, dan pengendalian diri.’”3
            “Apakah hasil dari Roh Kudus yang turun di hari Pentakosta?  Kegembiraan akan Juruselamat yang telah bangkit dibawa ke semua penjuru dunia.  Sebagaimana murid-murid mengabarkan berita akan kasih karunia, banyak hati yang terpanggil dengan pekabaran ini.  Gereja-gereja dipenuhi orang-orang dari segalah penjuru.  Pengkhianat menjadi percaya.  Orang-orang berdosa dipersatukan dengan orang-orang percaya di dalam mencari batu tiram dari hadiah besar itu.  Mereka yang dulunya berseteru menjadi pemenang untuk pekabaran Tuhan.  Nubuatan digenapi. “Mereka yang tersandung … akan menjadi seperti Daud; dan rumah Daud …. Seperti malaikat Tuhan” Zackharia 12:8.  Setiap orang Kristen melihat di dalam saudaranya kasih yang penuh dan kebajikan.  Setiap hal ditunjukkan.  Ambisi dari setiap orang percaya adalah menunjukkan karakter yang sama seperti Kristus dan bekerja untuk kerajaanNya.”4

1. Gospel Workers, hal. 479.
2. Ibid., pp. 259, 260.
3. Ibid., p. 287.
4. The Acts of the Apostles/Kisah Para Rasul, hal. 48.

Obinnaya Iheoma, Dumbarton, Skoltlandia

Rabu
25 JULI

Gal. 5:22, 23
Bagaimana
Seutuhnya dan Lengkap

Satu buah jeruk tidak utuh bila tidak ada kulitnya.  Juga tidak akan penuh bila ada bagian-bagian yang hilang.  Untuk buah jeruk mencapai satu keutuhan, bagian-bagian yang hilang perlu diperbaiki dan diselubungi dengan kulitnya.  Paulus mengundang orang-orang Kristen mula-mula untuk menuju kehidupan yang penuh dengan menunjukkan kepada mereka bagian-bagian dari buah Roh: hadiah dari karakter Yesus yang diberikan melalui Roh Kodus, diselubungi di dalam kasih.  Paulus juga dengan cepat berterimakasih kepada Tuhan atas komitmen yang dilihat di tengah-tengah orang Tesalonika sebagaimana mereka menaruh iman, kasih, dan pengharapan dalam tindak laku mereka.  Dosa telah merusak ide dari kesempurnaan dan keutuhan dengan membuat kita percaya bahwa semua itu tidak mungkin dicapai.

Bentuklah sikap untuk berterimakasih

            Dengan mempertimbangkan bagian-bagian dari Roh Kudus di bawah ini, kita dapat dikuatkan bahwa perjalanan Kekristenan akan menjadi pengalaman yang penuh dan menggembirakan:
Penyerahan diri. Menjadi seseorang yang utuh di dalam Kristus memerlukan penyerahan diri dan menerima talenta Roh Kudus.  Tuhan menjanjikan untuk member Roh Kudus bagi mereka yang meminta (Luk. 11:13).
            Berterimakasih.  Membentuk sikap berterimakasih.  Kita kadang-kadang meluangkan waktu terlalu banyak terhadap kelemahan kita dan apa yang kita tidak punya.  Bertolak belakang dari itu, kita perlu memfokuskan kekuatan kita dan berterimakasih terhadap Tuhan atas keahlian dan kemampuan yang Ia telah berikan bagi kita (I Tes. 5:18).  Marilah kita mengambil awktu untuk menghargai keahlian dan kemampuan dari orang-orang di sekitar kita.  Ini akan mencipatakan hasil positif yang banyak.
            Mengasihi.  Motivasi kita untuk menolong orang lain patutlah merupakan kasih kita kepada Tuhan. Ketika Ia berada di dunia, Ia menunjukkan kasihNya kepada orang-orang lain dengan memenuhi kebutuhan mereka (Mat. 20:28).  Kita juga perlu menujukkan kasih kita dnegan memenuhi kebutuhan orang-orang di sekitar kita.
            Optimis.  Ini bukan berarti kita perlu menyangkal masalah-masalah yang ada dalam hidup kita.  Akan tetapi, ini adalah mengambil tantangan, tahu bahwa aka nada hasil yang positif, dan percaya bahwa segala sesuatu akan berjalan dengan baik (Roma 8:28).  Kita patut menaruh pengharapan dan optimis kita kepada janji-janji Tuhan, percaya bahwa Ia akan melakukan apa yang Ia telah janjikan bagi kita (2 Petrus 3:9).

REAKSI
  1. Hal-hal apakah yang Tuhan telah janjikan bagi kita?  Bagaimana janji-janji ini dapat menolong kita menjadi orang-orang Kristen yang penuh?

Artikel ini adalah bagian dari buku karangan Jim Hartness dan Neil Eskelin, The 24-Hour Turn-Around: Discovering the Power to Change (Grand Rapids, Mich.: Fleming H. Revell Co. Pub., 1993), hal 48−50.

Elizabeth Iheoma, Dumbarton, Skotlandia

Kamis
26 JULI
Pendapat
Kegembiraan Sama Dengan Kemerdekaan
Gal. 5:19-23

Ketika berada di dunia, Kristus mengajar kita untuk bagaimana hidup sesuai dengan hokum dan kasih karuniaNya.  Kita tidak dapat melakukan apa-apa, tetapi berterimakasih atas janji-janjiNya.  Akan tetapi, bergembira setiap hari bukanlah sesuatu yang mudah.  Kadang-kadang, kita sedih terhadap apa yang telah terjadi di masa lalu dan takut akan masa depan.  Kita lupa bahwa hidup adalah untuk hari ini dan penuh dengan kejutan-kejutan yang indah dan berkat-berkat bahwa Tuhan rindu untuk bagikan dengan kita.  Kita harus hidup untuk hari ini.  Ini adalah hadiah.

Ketika kita mempunyai kegembiraan di dalam hati, kita akan menjadi lebih terbuka untuk pekerjaan Tuhan di kehidupan kita

            Ketika kita membuat pilihan untuk hidup sesuai dengan buah-buah Roh, kita akan hidup sesuai jalan yang Tuhan tunjukkan – dalam damai dan keharmonisan satu dengan lainnya.  Kehidupan kita akan menjadi saksi-saksi yang bersinar akan apa yang Kristus telah lakukan di dalam dan bagi kita, karena kegembiraan yang benar datangnya dari Dia.  Kegembiraan adalah satu pilihan.  Ini merupakan hal yang susah untuk di hadapi di tengah-tengah musibah, sakit hati, dan stress, tetapi bila kita meminta Tuhan untuk memenuhi kita dengan kegembiraanNya, Ia akan mengejutkan kita.  Ketika kita mempunyai kegembiraan di dalam hati kita, yang disinarkan oleh Kristus, kita akan lebih terubkan untuk pekerjaanNya di dalam kehidupan kita.  Kita akan lebih baik untuk menghargai naik turunnya hidup.  Kita akan menjadi lebih kurang untuk lupa menghargai keindahan dan kesempatan kaya yang datang segar setiap pagi.  Berfokus terhadap hal-hal yang negatif hanya membawa kita ke lubang yang lebih dalam.
            Kehidupan di bumi tidaklah adil, tetapi kita dapat memilih untuk hidup di hari ini, mengambil segala hal dengan iman, kasih, dan puji syukur.  Dengan melakukan ini akan membentuk kegembiraan kita.  Ini memerlukan latihan, tetapi Tuhan siap membantu.  Dia tahu persis apa yang kita perlu.  Max Lucado tulis, “Saya memilih untuk bergembira …. Saya akan mengunakan Tuhanku untuk menjadi Tuhan atas segala keadaan.  Saya akan menolak cobaan yang sinis … alat dari orang yang malas.  Saya akan menolak untuk melihat orang sebagai sesorang yang lebih rendah, tetapi sebagai seorang manusia, yang diciptakan Tuhan.  Saya akan menolak untuk melihat masalah yang ada, tetapi melihatnya sebagai satu kesempatan untuk melihat Tuhan.”*
            Kegembiraan memerdekan kita.

Reaksi
  1. Dalam cara apa Tuhan member kita alasan untuk berterimakasih?
  2. Hal-hal praktis apa yang saudara dapat lakukan di kehidupan sehari-hari untuk mengfokuskan kepada Tuhan dan hal-hal yang positif dalam hidup?
*Max Lucado, Grace for the Moment Journal (Nashville: J. Countryman, 2002), p. 9.

Taylor N. Bajic, Galston, East Ayrshire, Inggris

Jum’at
27 JULI
Eksplorasi
Memilih Berterimakasih dan Kegembiraan
Mazmur 16:11

SIMPULAN
Ketika pengarang Hal Urban masih kuliah, salah satu teman kuliahnya adalah Bruce Diaso.  Bruce sudah lumpuh oleh karena polio yang dideritanya sejak di kelas 3 SMA.  Ia hanya dapat menggerakkan kepada dan tangannya (bukan lengannya).  Ia tidak merasa sedih terhadap dirinya, malahan ia bertekad untuk berterimakasih dengan apa yang ia punya – Tuhan, keluarganya, gerejanya, teman-teman, universitas, guru-gurunya, pikiran yang baik, dan hidup yang penuh dengan kesempatan.  Bruce tamat dengan honors dan menjadi seorang pengacara, teatpi ia meninggal di umur 31 tahun.  Hal tidak pernah melupakan Bruce, yang mana ia lihat sebagai orang yang paling positif yang ia pernah kenal.  Sejak tahun 1972 Hal menceritakan kepada murid-muridnya apa yang ia sebut The Bruce Diaso Challenge/Tantangan Bruce Diaso – untuk melalui satu hari penuh tanpa bersungut-sungut akan apapun.  Tetap berpikir positif bukanlah hal yang mudah.  Tetapi sebagai umat Kristen kita bias – dan patut bisa – menjadi orang yang paling gembira, positif di dunia.  “Menghormati Kristus, menjadi seperti Dia, dan bekerja bagi Dia, adalah ambisi tertinggi dalam hidup dan kegembiraan yang paling besar.”*  Rasul Paulus belajar rahasia hidup.  Dan kita juga bisa.

Hubungkan                                                         
Steps to Christ/Kerinduan Segala Zaman, “Rejoicing in the Lord,” hal. 115‒126.
Hal Urban, Positive Words, Powerful Results (New York: Simon and Schuster, 2004), hal. 57-65.
____________
*Steps to Christ/Kerinduan Segala Zaman, hal. 297.

Renee Coffee, Gobles, Michigan, U.S.A.

Rabu, 18 Juli 2012

Real Time Faith-3-III-2012-Murid


Pelajaran 3
Menghadapi Rasa Bersalah dan Rasa Takut
Terdiam Karena Rasa Takut
21 Juli 2012

Ø Ayat hafalan: Pilih salah satu ayat dari pelajaran hari Rabu. Tulis di bawah ini dan hafalkan pada minggu ini.
____________________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________________



                        Terdiam Karena Rasa Takut

(Menurut pendapatmu, apa hubungan antara ilustrasi berikut dengan ayat Alkitab pada pelajaran hari Rabu?)

            13 Maret 1964. Sudah lewat dari tengah malam, beberapa jam sebelum subuh. Kitty Genovese pulang ke rumah setelah bekerja. Tepat sebelum memasuki apartemennya, dia diserang oleh seorang pria dengan sebuah pisau. “Saya ditusuk. Tolong saya! Tolong!” dia berteriak. Segera lampu-lampu dari apartemen sekitarnya menyala. Si pembunuh segera pergi. Tapi tidak ada seorangpun yang datang menolongnya. Beberapa menit kemudiaan, lampu-lampu padam. Si pembunuh kembali untuk meyelesaikan pekerjaannya. Ketika dia berteriak, ketika itu juga lampu-lampu kembali menyala dan si pembunuh lari. Hal ini terulang sampai tiga kali. Pada kesempatan yang ketiga, si pembunuh menyelesaikan pekerjaannya dan diam-diam menghilang.
            Selama serangan 35 menit, 38 orang menonton dari apartemennya yang aman. Tidak seorangpun yang datang menyelamatkannya. Dipenuhi dengan perasaan takut, mereka tidak memiliki tanggung jawab moral atau rasa peka. Mereka duduk diam sementara seseorang dibunuh secara brutal.
            Segera setelah kejadian Kitty Genovese, ahli sosial mulai menyelidiki perkara ini dengan harapan mereka dapat menjelaskan “fenomena” tersebut. Mereka menyimpulkan bahwa kurangnya rasa kasihan dan empati dari saksi dikarenakan perasaan pribadi dan jauh dari orang lain.
            Para saksi, untuk membenarkan tindakannya, berkata, “Kami takut,” “Saya capek,” “Kami tidak mau terlibat.” – Diambil dari artikel New York Times, 27 Maret 1964.


 
            Minggu
            Yang Saya Pikirkan
            Beberapa tahun kemudian, mudah untuk duduk dan menghakimi orang-orang yang ada di apartemen. Kita dapat duduk dengan aman di rumah dan mengatakan seseorang sedang melakukan sesuatu, berlari keluar dan menyelamatkan wanita itu, membantunya dengan beberapa cara. Tapi coba kamu berada pada posisi yang sama. Bayangkan kamu sedang duduk di rumah dan malammu yang damai terganggu oleh teriakan seorang wanita yang ditusuk sampai mati. Kamu berlari ke jendela untuk mengetahui apa yang terjadi. Pada saat serangan terjadi, kamu diliputi emosi, ketakutan, amarah, ketidakadilan, dan terkejut. Apa yang kamu lakukan? Apakah kamu membantu wanita itu? Apakah kamu membiarkan ketakutan menghalangimu? Apakah rasa bersalah mempengaruhi tindakanmu? Kekuatan apa yang dimiliki rasa bersalah dan rasa takut dalam hidupmu?
Masuk ke www.guidemagazine.org/rtf untuk membagikan pendapatmu. Beranilah dan jujur. Katakan apa yang kamu pikirkan.

Senin
Apa yang Mereka Ingin Katakan?
Beda orang, beda pendapat. Beberapa kutipan di bawah ini mewakili pandangan warga kerajaan yang sebenarnya; yang lain mungkin tidak. Apakah kamu dapat menyatakan perbedaannya? Bagaimana pernyataan ini dibandingkan dengan apa yang Tuhan katakan dalam firman-Nya? Setelah mengkaji ayat-ayat pada bagian pelajaran Tuhan Berkata…, tulislah sebuah pernyataan yang menunjukkan kepercayaanmu. Bersiaplah untuk menyatakan pendapatmu pada Kelas Sekolah Sabat.
Ø “Kamu harus langsung menatap matanya dan membuat mereka merasa bersalah.” – Elizabeth Brinton, anggota pramuka berusia 13 tahun, ketika menjelaskan bagaimana dia berhasil menjual 11.200 kotak kue.
Ø “Air mata pertobatan menghapuskan rasa bersalah.” – peribahasa Latin.
Ø “Keberanian adalah daya tahan terhadap rasa takut, menguasai rasa takut – bukan ketiadaan rasa takut.” – Mark Twain, penulis A.S. pada abad 19.
Ø “Survei membuktikan bahwa ketakutan no. 1 penduduk A.S. adalah berbicara di depan umum. No. 2 adalah kematian. Kematian adalah no 2! Hal ini membuktika bahwa orang Amerika lebih memilih berada dalam peti mati daripada melakukan pidato.”Jerry Seinfield, comedian A. S saat ini.
Ø “Orang dewasa takut mati sebagaimana anak kecil takut gelap.” -  Francis Bacon, filsuf Inggris pada abad 16.
Ø “Setiap manusia bersalah atas setiap hal baik yang tidak mereka lakukan.” – Voltaire,  filsuf Prancis pada abad 18.
Ø “Perasaan damai tidak ada pada pikiran yang bersalah.” – Juvenal, penulis puisi dan pengarang satire dari Roma pada abad 1.
Ø “Satu-satunya hal yang harus kita takuti adalah rasa takut itu – tidak bernama, tidak beralasan, tidak dibenarkan, sebuah ancaman yang melumpuhkan yang membutuhkan suatu usaha untuk merubah kemunduran menjadi kemajuan yang pesat.” - Franklin Delano Roosevelt (1882-1945), president A.S. ke-32.
Ø “Emosi tertua dan terkuat dari manusia adalah rasa takut.” – H.P. Lovecraft, penulis A.S. pada abad 20.
 Tuliskan Kutipanmu
 Apa yang saya katakan adalah …
Ø  ____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Selasa
APA?
Di dunia, ada 530 phobia yang teridentifikasi. Yang menjelaskan banyak ketakutan orang-orang. Manusia takut akan air hingga api hingga budaya Prancis. Mungkin kamu tidak memiliki rasa takut yang melumpuhkan, atau mungkin kamu memilikinya. Tapi sesuatu yang dimiliki setiap orang adalah rasa bersalah. Rasa bersalah membuat hidup kita seperti dibayang-bayangi.
Rasa bersalah dan rasa takut telah  yang ada di dunia sejak semula. Adam dan Hawa bersembunyi dari Tuhan di taman karena mereka merasa bersalah atas apa yang mereka telah lakukan. Abraham berbohong kepada Firaun karena dia takut dibunuh dan Sarah akan diambil.
Hanya ada satu cara untuk melawan dua emosi ini – percaya. Percayalah Allah sepenuhnya. Karena hanya Ia yang punya kuasa untuk mengampuni dan mengangkat rasa bersalah. Alkitab berkata, “Sebab Allah memberikankepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7). Gunakan roh itu; jangan bersembunyi di belakang awan rasa bersalah dan rasa takut. Percayalah Allah dan gunakan kekuatan yang Ia berikan kepadamu.

Rabu
Tuhan berkata…

Ayat-ayat berikut adalah beberapa contoh dari tokoh Alkitab yang menghadapi emosi dengan baik dan beberapa yang tidak. Apakah kamu dapat menjelaskan perbedaannya?
Ø 2 Timotius 1:7
Ø Ulangan 20:3, 4
Ø Yosua 10:25
Ø Mazmur 27:1
Ø Mazmur 23:4
Ø Mazmur 56:3, 4
Ø Matius 10:31
Ø Yohanes 16:33
Ø 1 Yohanes 4:18
Ø (Ayat tambahan: Yesaya 43:25; Mazmur 103:11, 12; Matius 18:21-35; Yohanes 16:33; Roma 8:1-4; 1 Korintus 13:5; 2 Timotius 1:7; Ibrani 10:17; 1 Yohanes 1:9)

Kamis
Apa Hubungan Semua Ini dengan Aku?
Sebagai seorang Kristen, kita tahu bahwa Allah memperhatikan kita setiap waktu. Kamu telah mendengar isi Mamur 23 dibaca dan dibaca lagi. Kita tahu bahwa pengampunan diberikan secara gratis bagi kita semua yang memintanya. Tetapi rasa bersalah dan rasa takut dapat menguasai kehidupanmu. Kamu mendengar berita tentang penembakan di televisi, dan tiba-tiba kamu takut meninggalkan rumah. Kamu melakukan kesalahan satu kali dan merasa bersalah selama berminggu-minggu. Bukankah jelas lebih mudah untuk mempercayai Allah yang akan melindungimu? Bukankah stress berkurang jika kita meminta pengampunan? Berharap bisa semudah ini? Tapi memang inilah kenyataannya.

           
            Jumat
            Bagaimana Cara Kerjanya?
           
            Sebuah produk baru yang disebut “Kantung rasa bersalah yang dapat dibuang” muncul di pasaran. Produk tersebut berisi satu set yangterdiri dari 10 kantung coklat biasa yang mana setiap kantung tertera instruksi berikut: “Tempatkan tas dengan tepat pada mulut,  tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan semua rasa bersalah, kemudian buang kantung secepatnya.” Ajaibnya, Associated Press melaporkan bahwa 2500 set terjual cepat dengan harga $2.50 per setnya. Betapa mudahnya jika kita dapat membuang rasa bersalah seperti itu! Tidak ada benda di dunia ini yang cukup kuat untuk membuang rasa bersalah. Kita tidak dapat menyembuhkan diri kita sendiri, yang mana setiap orang mencoba melakukannya. Yang membuat kita dapat diampuni, dibersihkan, disembuhkan, menerima kembali hidup yang segar, bersih dan baru adalah kuasa kasih karunia Allah di kayu salib melalui Yesus Kristus.
            Minggu ini, cobalah Kantung Rasa Bersalah. Tapi gantinya menggunakan kantung kertas, cobalah doa baik yang tua dan dapat dipercaya. Sungguh, mungkin kedengarannya seperti ide gila. Tapi cobalah dengan serius untuk satu minggu dan lihat jika kamu tidak merasa kurang bersalah.