|
|
Satu dan Dua Tesalonika
Pelajaran Keempat
Kwartal 3,
Bergembira dan Bersyukur
21—28 Juli
2012
Diterjemahkan
Oleh: Glenn Simanjuntak
Editor: Daniel Saputra dan Yonata
Bastian
Sirkulasi: Janette Sepang
|
“Kami selalu
mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa
kami. Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan
pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.”
(I Tes 1:2, 3)
Sabbath
21 Juli
|
I Tes. 1:1-5
|
Pendahuluan
Kembali
Fokus
|
Saya menulis berdasarkan jadwal yang
ditentukan dan berusaha untuk menyelesaikannya tepat waktu. Akan tetapi, konsentrasi saya menurun dan
mata saya mulai memandang barisan dari “icon” di bawah layar laptop saya. Mereka seperti barisan permen yang
menggiurkan di dalam kotak.
Ditekan. Pesan: “Hello, Hannah. Bolehkah kita bertemu untuk makan siang pada
hari Kamis?”
Satu email berkelip-kelip di dalam “inbox”
saya. Mungkin ada diskon di toko
kesenangan saya
Saya sedang membantu untuk menulis satu
buku tentang Kedatangan yang Kedua Kali.
Saya berharap ini akan mengikutsertakan generasi yang ingin tahu, tidak
percaya, dan mementingkan diri sendiri.
Ini merupakan proyek yang sangat menarik. Akan tetapi, ini akan memakan waktu lama dan
saya kehilangan energi. Tekan. “Gempa
bumi di Jepang adalah salah satu gempa terkuat yang pernah tercatat. Sistem keamanan reactor nuklir tidak
berfungsi lagi. Lebih dari seribu orang
hilang.”
Saya mulai mengetik kembali.
Dunia
tidak akan lama lagi ada. Tidak mungkin
untuk mengabaikan bagaimana tidak berdaya kita ini. Tuhan mengasihi kitak, dan Ia mempunyai satu
rencana.
Satu email berkelip-kelip di dalam “inbox”
saya. Mungkin ada diskon di toko
kesenangan saya. Tekan. Oh, ada email dari Paul. Sudah lama sekali saya tidak pernah dengar
dari dia. Mungkin dia mau membantu saya
dengan buku ini. Tekan.
“Anak yang kukasihi, saya tidak dapat
berhenti berterimakasih dan memuji Tuhan untuk engkau! Apakah kamu tahu kalau saya menyebut namamu
di dalam doa-doaku setiap hari? Sangat
menggembirakan bagi saya untuk tahu bahwa kamu dengan sepenuh hati percaya akan
proyek ini, dan tetap bekerja untuk ini.
Saya tidak dapat sangkal kalau ini adalah salah satu proyek yang paling
susah. Tetapi pekerjaanmu diinspirasi
oleh kasih bagi Tuhan dan bagi orang-orang di sekeliling mu yang tidak
mempunyai pengharapan seperti kamu – bahwa Yesus akan dating kembali.
“Saya mau supaya engkau tahu bahwa saya
mempunyai iman dalammu, karena saya mengasihimu. Saya telah melihat kamu bertumbuh, dan saya
tahu kalau kamu tidak akan pernah kehilangan iman di dalam Tuhan.”
“Kamu pasti memikirkan akan batas
waktu. Saya juga tidak tahu tanggal
tersebut. Ini proyek yang terus berjalan
– seumur hidup. Percayalah kepada Tuhan
untuk menginsiprasimu, dan Dia akan mempersiapkan kepadamu batas waktuNya. Ia menuai kita di dunia ini – menampi proyek
dengan bermacam-macam cara.”
Dorongan Paul mem-fokuskan kembali apa
yang paling penting. Saya memutuskan
hubungan internet ke laptop saya, menyembunyikan “application bar”, dan kembali
dengan energy yang baru untuk pekerjaan yang paling penting dalam hidup ini.
Karen Holford, Auchtermuchty, Skotlandia
Minggu
22 Juli
|
Bukti
Hasil-hasil Yang Bagus
|
I Tesalonika 1:1-10
|
Guru-guru tahu
bahwa tidak ada yang dapat memotivasi seorang murid lebih dari satu hadiah
untuk pekerjaan atau kelakuan yang baik.
Bayangkan kalau itulah yang orang-orang Tesalnika rasakan ketika mereka
mulai membaca surat-surat yang ditulis oleh Paulus, Silas, dan Timotius.
Paulus dan Silas
adalah bapak rohani bagi orang-orang Kristen Tesalonika. Dalam Kisah 17:1-9 kita dapati kalau mereka
pergi ke Tesalonika ketika mereka berdebat dengan orang-orang Yahudi selama
tiga Sabat berturut-turut. Sebagian
besar dari mereka, termasuk banyak orang Gerika, menjadi orang Kristen (Kisah
17:4).
Apakah
yang Paulus katakan tentang jenis iman, kasih, dan pengharapan?
Oleh karena itu, Paulus, Silas, dan
sekarang Timotius berterimakasih atas jalan yang “gereja mula-mula” yang baru
di Tesalonika bertumbuh. Hal penting
yang patut diperhatikan adalah Paulus berterimakasih kepada Tuhan atas iman,
kasih, dan pengharapan yang menggema di dunia Kristen saat itu. Ini sangat penting. Buah-buah baik yang kita hasilkan adalah
hasil dari pekerjaan Tuhan di dalam kita, bukan satu hasil dari pekerjaan kita
sendiri, atau pekerjaan pendeta kita.
Tuhanlah yang menghasilkan iman, kasih, dan pengharapan di dalam
kehidupan orang-orang yang dulunya adalah penyembah berhala (I Tes. 1:9).
Apakah yang dikatakan Paulus akan iman,
kasih, dan pengharapan? Ia menerangkan
semuanya sebagai “pekerjaanmu yang penuh iman, pekerjaan kasih, dan kesabaran
atas pengharapan di dalam Tuhan kita Yesus Kristus” (I Tes. 1:3). Apakah Paulus, yang mana di beberapa tempat
membandingkan antara keselamatan orang iman dan keselamat oleh pekerjaan, hanya
mengatakan “pekerjaan akan iman”? Leon
Morris mengatakan bahwa “ketika Paulus menekankan bahwa keselamatan adalah semuanya
dari Tuhan, Ia juga menekankan bahwa iman itu sibuk.”*
“Pekerjaan kasih” berarti lebih dari hanya
beberapa sikap baik di sini dan di sana.
Bahasa Gerika “kerja (labor)” (kopos)
berarti usaha yang terus menerus dan kesukaran demi kasih. Bahasa Gerika yang kita terjemahkan dari
“kasih” adalah agape, yang mana
adalah satu kasih yang hanya datang dari Tuhan dan mencari untuk memberikannya
terlepas dari nilai orang tersebut.
Kasih seperti ini menantang keadaan kita sebagai manusia. Akhirnya, “kesabaran akan pengharapan di
dalam Tuhan kita Yesus Kristus” adalah satu pengharapan yang ditujukan kepada
kedatangan Yesus yang kedua kali. Di
dalam I Tesalonika 1:8 Paulus menulis bahwa iman mereka menjadi terkenal di
banyak tempat sehingga ia sendiri, Silas, dan Timotious tidak perlu menyebut
apa-apa. Tindakan mereka berbicara lebih
besar dari perkataan!
REAKSI
Apakah Paulus akan gembira dan
berterimakasih bila ia datang menjenguk gereja saudara atau dirimu
sendiri? Mengapa atau mengapa tidak?
*Leon Morris, 1 & 2 Thessalonians: An Introduction and Commentary/1 & 2 Tesalonika: Pengantar dan Komentar (Nottingham:
InterVarsity Press, 1984), p. 43/hal. 43
Filip Bajic, Galston, East Ayrshire, United Kingdom
Senin
23 JULI
|
Daniel
12:2; I Kor. 13; Gal 5:19-23; I Tes. 1; I Tim. 1:15
|
Logos
Dasar Untuk
Berterimakasih
|
Karena Itulah
yang Benar! (I
Tes. 1:3; I Kor. 13:13)
Paulus mempunyai beberapa hal yang
menantang yang Ia mau katakan bagi orang-orang Tesalonika, tetapi ia tahu bahwa
ia perlu untuk pertama-tama berinteraksi dengan mereka dengan menguatkan dan
menghargai mereka. Mengetahui bahwa ia
bergembira di tengah-tengah mereka akan membuat segala sesuatu lebih mudah
untuk mendengar kata-kata keras yang ada di suratnya. Ia mau mereka tahu bahwa masalah-masalah apa
saja yang mereka bawa dalam kehidupan mereka, mereka tetap membawa kesenangan.
Di dalam kerajaan Tuhan, kegembiraan dapat
didapati di tempat-tempat yang tidak disangka.
Paulus dengan bijaksana mengambil satu langkah besar ke belakang
untuk mengintrospeksi dirinya akan kesalahan-kesalahan mereka supaya dapat
melihat lebih jauh. Benar, ada hal-hal
yang perlu diperbaiki; tetapi mereka tetap berada di jalur yang benar, dan
itulah hal yang sangat penting.
Kegembiraannya datang dari mengenal bahwa “anak-anak bayi” yang ia bawa
kepada Kristus telah bertumbuh dewasa menjadi orang-orang percaya yang setia
dan kasih. Mereka telah bertumbuh besar
secara rohani, dan ia tahu bahwa ini hanyalah benar untuk berterimakasih kepada
Tuhan atas pertumbuhan mereka (2 Tes. 1:3, 4).
Paulus secara spesifik berterimakasih atas iman, pengharapan, dan kasih
mereka – koleksi yang terikat dengan dekat atas konsep-konsep yang ia percaya
adalah di tengah-tengah kehidupan orang Kristen.
Setiap orang Tesalonika yang percaya dapat menggambarkan kegembiraan
di waja Paulus ketika surat tersebut dibacakan.
Lebih lagi, setiap orang Tesalonika tahu bahwa apa saja yang dikatakan
Paulus, adalah karena ia mengasihi mereka.
Karena Allah Mengatur Segala Sesuatu (Mat.
5:3-12; Roma 8:28; I Tes. 5:16-18)
Di dalam kerajaan Tuhan, kegembiraan
didapati di tempat-tempat yang tidak disangka.
Kegembiraan tidaklah merupakan apa yang kita punya, siapa kita,
pekerjaan kita, atau bahkan apa yang sedang terjadi di sekeliling kita. Hadiah Tuhan akan kegembiraan melebihi
kesakitan dan tantangan yang kita hadapi.
Di tengah-tengah kegembiraan adalah keamanan yang kita dapati di dalam
kasih Tuhan yang tidak berkesudahan bagi kita.
Ia bekerja untuk kebaikan semua orang yang mengasihiNya (dan juga bagi
mereka yang tidak).
Mengetahu bahwa Tuhan peduli akan setiap aspek dari kehidupan kita,
member kita kegembiraan akan dasar yang kuat.
Kasihnya yang terus menerus member kita pandangan yang berbeda akan
hidup. Ini bukanlah mengenai apa yang terjadi
bagi diri kita sekarang. Akan tetapi,
ini adalah mengenai Tuhan yang menggunakan apa yang terjadi untuk menolong kita
berbuat sesuai dengan rupaNya.
Karena Roh Kudus Berubah (Gal. 5:19-23; I Tes. 1:9)
Orang-orang percaya di Tesalonika tahu
dengan jelas akan arti dari kehidupan seorang penyembah berhala (I Tes.
1:9). Mereka tahu bahwa itu bukanlah
tempat senang (Gal. 5:19-21). Banyak
orang yang masih mencari kesenangan di dalam kehidupan kepentingan diri sendiri
dari tuna susila, kerakusan keuangan dan harta benda, ambisi, pesta pora, obat,
dan alkoho. Ketika Roh Kudus mengisi
kehidupan kita, kia menemukan kegembiraan autentik yang datang dari ketidak
mementingkan diri sendiri yang menggunakan buah-buah roh untuk menolong orang
lain mengalami dalam dan tingginya kasih Tuhan.
Kita mengalami kegembiraan ketika kita memperlakukan orang lain dengan
kebaikan dan rasa hormat. Pertentangan
dapat dirubah dengan perdamaian.
Kejengkelan dapat dirubah dengan kesabaran. Kecanduan dan marah dapat dikalahkan dengan
pengendalian diri, dan kebencian dan kejahatan dapat diselesaikan dengan kasih.
Karena Iman Merubah Segala
Sesuatu (I Tes. 1:4, 5: I Tim. 1:15)
Mungkin tidak adalah pengalaman yang lebih
indah dari mengenal bahwa Tuhan kasih dan menerima kita sebagaimana kita ada,
bahwa ketika kita adalah orang yang paling berdosa. PengampunanNya mengundang kita untuk
membalasnya dengan mengasihiNya dan pecaya padaNya. Setelah hidup di dalam kehidupan menyembah
berhala, orang-orang Tesalonika mereka bahwa merekalah orang yang paling
berdosa. Iman dalam Tuhan yang menerima,
mengasihi, dan mengampuni akan terus menerus membebaskan kita dari keselahan
kita di masa lalu. Iman orang-orang
Tesalonika yang tidak tergoyahkan dalam kasih dan pengampunan Tuhan, dan
bersama dengan kuasa Roh Kudus, akan membantu mereka untuk berubah sebagaimana
Paulus telah tunjukkan kemauan Tuhan bagi mereka.
Karena Iman Hidup (Dan.
12:2; I Tes. 1:8-10)
Pengharapan secara alami mengikuti ketika
kita mempunyai iman di dalam Tuhan dan percaya akan janji-janjiNya. Kita tidak perlu taku akan masa depan karena
kita tahu kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu. Bahwa, kebangkitan dari kematian adalah
permulaan dari pengalaman hidup yang baru.
Orang-orang percaya Tesalonika mempunyai kepercayaan kuat akan
kedatangan Yesus yang kedua kali.
Kepercayaan ini terkenal di antara orang-orang percaya. Kehidupan sehari-hari mereka dibentuk
berdasarkan pengharaan akan kebangkitan dan hidup baru di surge.
Karena Kasih Bekerja (I
Tes. 1:3; 1 Kor. 13)
Paulus tahu bahwa kasih Tuhan adalah
kekuatan di belakang dari pengijilannya bagi gereja Tesalonika. Kasih Allah menolong mereka untuk mengasihi
satu dengan yang lain. Ketika hati kita
penuh dengan pengalaman dengan kasih Tuhan, maka kasih Tuhan akan mengalir dari
kehidupan kita ke kehidupan orang lain.
I Korintus 13 menerangkan akan kasih Tuhan bagi kita, kasih yang kita
perlu alami dari Dia supaya kita dapat hidup dalam hubungan satu dengan yang
lain, karena “yang paling penting dari semua ini adalah kasih” (I Kor. 4:13).
REAKSI
- Apakah yang membuat saudara sangat gembira: iman di dalam Tuhan; pengharapan akan Kedatangan yang Kedua Kali; atau kasih yang diinspirasi oleh Tuhan bagi orang di sekeliling?
- Paulus mengatakan bahwa iman, pengharapan, dan kasih adalah penting dan kasih adalah yang paling penting dari ketiga hal tersebut. Bagaimana iman, pengharapan, dan kasih dapat berinteraksi dan membatu satu dengan lainnya di dalam kehidupan saudara?
Bernie Holford, Auchtermuchty, Skotlandia
Selasa
24 JULI
|
Kesaksian
Diisi dan
Diinspirasi
|
I Tes. 1:8
|
“Tinggal di dalam kualitas bagus dengan
siapa kita berhubungan, dan melihat kesalahan dan kegagalan seminimal
mungkin. Ketika dicobai untuk mengkritik
apa yang seseorang katakan atau lakukan, biarlah kita memuji sesuatu akan
kehidupan atau karakter orang tersebut.
Tumbuhkan rasa bersyukur. Pujilah
Tuhan akan kasihNya untuk member Kristus mati bagi kita. Tidak ada artinya untuk memikirkan keluh
kesah kita. Tuhan memanggil kita untuk
memikirkan kasih karuniaNya dan kasihNya yang tidak ada duanya, sehingga kita
dapat diinspirasi dengan pujian.”1
“Roh Kudus membuat kembali, memurnikan
kembali, dan menyucikan manusia …”
“Oleh karena iman sehingga kita dapat melihat ke depan dengan segala
beban dan kepedulian yang ada, dan segala hal yang membingungkan akan dibuat
menjadi polos. Iman melihat Yesus
berdiri sebagai Penengah kita di sisi kanan Tuhan. Iman melihat tempat yang Kristus telah pergi
menyiapkan bagi mereka yang mengasihiNya.
Ima melihat jubah dan mahkota yang disiapkan bagi mereka yang menang dan
mendengar lagu dari orang-orang yang ditebus.
Iman bukanlah satu perasaan. ‘Iman adalah hal yang kita harapkan, dan
bukti yang tidak dapat kita lihat.’”2
“Roh Kudus membuat kembali, memurnikan kembali, dan menyucikan
manusia, mempersiapkan mereka menjadi anggota keluarga raja, anak-anak dan Bapa
di surga …. Buah-buah Roh adalah ‘kasih’, bukan kebencian, ‘kesenangan’, bukan
ketidakpuasan dan kesedihan; ‘damai’, bukan iritasi, kegelisahan. Sabar, lemah lembut, kebaikan, iman, tidak
cepat marah, dan pengendalian diri.’”3
“Apakah hasil dari Roh Kudus yang turun di hari Pentakosta? Kegembiraan akan Juruselamat yang telah
bangkit dibawa ke semua penjuru dunia.
Sebagaimana murid-murid mengabarkan berita akan kasih karunia, banyak
hati yang terpanggil dengan pekabaran ini.
Gereja-gereja dipenuhi orang-orang dari segalah penjuru. Pengkhianat menjadi percaya. Orang-orang berdosa dipersatukan dengan
orang-orang percaya di dalam mencari batu tiram dari hadiah besar itu. Mereka yang dulunya berseteru menjadi
pemenang untuk pekabaran Tuhan. Nubuatan
digenapi. “Mereka yang tersandung … akan menjadi seperti Daud; dan rumah Daud
…. Seperti malaikat Tuhan” Zackharia 12:8.
Setiap orang Kristen melihat di dalam saudaranya kasih yang penuh dan
kebajikan. Setiap hal ditunjukkan. Ambisi dari setiap orang percaya adalah
menunjukkan karakter yang sama seperti Kristus dan bekerja untuk kerajaanNya.”4
1. Gospel Workers, hal. 479.
2. Ibid., pp. 259,
260.
3. Ibid., p. 287.
4. The Acts of the Apostles/Kisah Para Rasul,
hal. 48.
Obinnaya Iheoma, Dumbarton, Skoltlandia
Rabu
25 JULI
|
Gal.
5:22, 23
|
Bagaimana
Seutuhnya dan Lengkap
|
Satu buah jeruk tidak utuh bila tidak ada kulitnya. Juga tidak akan penuh bila ada bagian-bagian
yang hilang. Untuk buah jeruk mencapai
satu keutuhan, bagian-bagian yang hilang perlu diperbaiki dan diselubungi
dengan kulitnya. Paulus mengundang
orang-orang Kristen mula-mula untuk menuju kehidupan yang penuh dengan
menunjukkan kepada mereka bagian-bagian dari buah Roh: hadiah dari karakter
Yesus yang diberikan melalui Roh Kodus, diselubungi di dalam kasih. Paulus juga dengan cepat berterimakasih
kepada Tuhan atas komitmen yang dilihat di tengah-tengah orang Tesalonika
sebagaimana mereka menaruh iman, kasih, dan pengharapan dalam tindak laku
mereka. Dosa telah merusak ide dari
kesempurnaan dan keutuhan dengan membuat kita percaya bahwa semua itu tidak
mungkin dicapai.
Bentuklah sikap untuk berterimakasih
Dengan mempertimbangkan
bagian-bagian dari Roh Kudus di bawah ini, kita dapat dikuatkan bahwa
perjalanan Kekristenan akan menjadi pengalaman yang penuh dan menggembirakan:
Penyerahan
diri. Menjadi seseorang yang utuh di dalam Kristus memerlukan
penyerahan diri dan menerima talenta Roh Kudus.
Tuhan menjanjikan untuk member Roh Kudus bagi mereka yang meminta (Luk.
11:13).
Berterimakasih. Membentuk sikap
berterimakasih. Kita kadang-kadang
meluangkan waktu terlalu banyak terhadap kelemahan kita dan apa yang kita tidak
punya. Bertolak belakang dari itu, kita
perlu memfokuskan kekuatan kita dan berterimakasih terhadap Tuhan atas keahlian
dan kemampuan yang Ia telah berikan bagi kita (I Tes. 5:18). Marilah kita mengambil awktu untuk menghargai
keahlian dan kemampuan dari orang-orang di sekitar kita. Ini akan mencipatakan hasil positif yang
banyak.
Mengasihi. Motivasi kita untuk menolong
orang lain patutlah merupakan kasih kita kepada Tuhan. Ketika Ia berada di
dunia, Ia menunjukkan kasihNya kepada orang-orang lain dengan memenuhi
kebutuhan mereka (Mat. 20:28). Kita juga
perlu menujukkan kasih kita dnegan memenuhi kebutuhan orang-orang di sekitar
kita.
Optimis. Ini bukan berarti kita perlu
menyangkal masalah-masalah yang ada dalam hidup kita. Akan tetapi, ini adalah mengambil tantangan,
tahu bahwa aka nada hasil yang positif, dan percaya bahwa segala sesuatu akan
berjalan dengan baik (Roma 8:28). Kita
patut menaruh pengharapan dan optimis kita kepada janji-janji Tuhan, percaya
bahwa Ia akan melakukan apa yang Ia telah janjikan bagi kita (2 Petrus 3:9).
REAKSI
- Hal-hal apakah yang Tuhan telah janjikan bagi kita? Bagaimana janji-janji ini dapat menolong kita menjadi orang-orang Kristen yang penuh?
Artikel ini adalah
bagian dari buku karangan Jim Hartness dan Neil Eskelin, The 24-Hour Turn-Around: Discovering the Power to Change (Grand
Rapids, Mich.: Fleming H. Revell Co. Pub., 1993), hal 48−50.
Elizabeth Iheoma, Dumbarton, Skotlandia
Kamis
26 JULI
|
Pendapat
Kegembiraan Sama Dengan Kemerdekaan
|
Gal. 5:19-23
|
Ketika berada di dunia, Kristus mengajar
kita untuk bagaimana hidup sesuai dengan hokum dan kasih karuniaNya. Kita tidak dapat melakukan apa-apa, tetapi
berterimakasih atas janji-janjiNya. Akan
tetapi, bergembira setiap hari bukanlah sesuatu yang mudah. Kadang-kadang, kita sedih terhadap apa yang
telah terjadi di masa lalu dan takut akan masa depan. Kita lupa bahwa hidup adalah untuk hari ini
dan penuh dengan kejutan-kejutan yang indah dan berkat-berkat bahwa Tuhan rindu
untuk bagikan dengan kita. Kita harus
hidup untuk hari ini. Ini adalah hadiah.
Ketika kita
mempunyai kegembiraan di dalam hati, kita akan menjadi lebih terbuka untuk
pekerjaan Tuhan di kehidupan kita
Ketika kita membuat pilihan untuk hidup
sesuai dengan buah-buah Roh, kita akan hidup sesuai jalan yang Tuhan tunjukkan
– dalam damai dan keharmonisan satu dengan lainnya. Kehidupan kita akan menjadi saksi-saksi yang
bersinar akan apa yang Kristus telah lakukan di dalam dan bagi kita, karena
kegembiraan yang benar datangnya dari Dia.
Kegembiraan adalah satu pilihan.
Ini merupakan hal yang susah untuk di hadapi di tengah-tengah musibah,
sakit hati, dan stress, tetapi bila kita meminta Tuhan untuk memenuhi kita
dengan kegembiraanNya, Ia akan mengejutkan kita. Ketika kita mempunyai kegembiraan di dalam
hati kita, yang disinarkan oleh Kristus, kita akan lebih terubkan untuk
pekerjaanNya di dalam kehidupan kita.
Kita akan lebih baik untuk menghargai naik turunnya hidup. Kita akan menjadi lebih kurang untuk lupa
menghargai keindahan dan kesempatan kaya yang datang segar setiap pagi. Berfokus terhadap hal-hal yang negatif hanya
membawa kita ke lubang yang lebih dalam.
Kehidupan di bumi tidaklah adil, tetapi
kita dapat memilih untuk hidup di hari ini, mengambil segala hal dengan iman,
kasih, dan puji syukur. Dengan melakukan
ini akan membentuk kegembiraan kita. Ini
memerlukan latihan, tetapi Tuhan siap membantu.
Dia tahu persis apa yang kita perlu.
Max Lucado tulis, “Saya memilih untuk bergembira …. Saya akan mengunakan
Tuhanku untuk menjadi Tuhan atas segala keadaan. Saya akan menolak cobaan yang sinis … alat
dari orang yang malas. Saya akan menolak
untuk melihat orang sebagai sesorang yang lebih rendah, tetapi sebagai seorang
manusia, yang diciptakan Tuhan. Saya
akan menolak untuk melihat masalah yang ada, tetapi melihatnya sebagai satu
kesempatan untuk melihat Tuhan.”*
Kegembiraan memerdekan kita.
Reaksi
- Dalam cara apa Tuhan member kita alasan untuk berterimakasih?
- Hal-hal praktis apa yang saudara dapat lakukan di kehidupan sehari-hari untuk mengfokuskan kepada Tuhan dan hal-hal yang positif dalam hidup?
*Max Lucado, Grace for the Moment
Journal (Nashville: J. Countryman, 2002), p. 9.
Taylor N. Bajic, Galston,
East Ayrshire, Inggris
Jum’at
27
JULI
|
Eksplorasi
Memilih Berterimakasih dan Kegembiraan
|
Mazmur 16:11
|
SIMPULAN
Ketika pengarang Hal Urban masih kuliah,
salah satu teman kuliahnya adalah Bruce Diaso.
Bruce sudah lumpuh oleh karena polio yang dideritanya sejak di kelas 3
SMA. Ia hanya dapat menggerakkan kepada
dan tangannya (bukan lengannya). Ia
tidak merasa sedih terhadap dirinya, malahan ia bertekad untuk berterimakasih
dengan apa yang ia punya – Tuhan, keluarganya, gerejanya, teman-teman,
universitas, guru-gurunya, pikiran yang baik, dan hidup yang penuh dengan
kesempatan. Bruce tamat dengan honors
dan menjadi seorang pengacara, teatpi ia meninggal di umur 31 tahun. Hal tidak pernah melupakan Bruce, yang mana ia
lihat sebagai orang yang paling positif yang ia pernah kenal. Sejak tahun 1972 Hal menceritakan kepada
murid-muridnya apa yang ia sebut The Bruce Diaso Challenge/Tantangan Bruce
Diaso – untuk melalui satu hari penuh tanpa bersungut-sungut akan apapun. Tetap berpikir positif bukanlah hal yang
mudah. Tetapi sebagai umat Kristen kita
bias – dan patut bisa – menjadi orang yang paling gembira, positif di
dunia. “Menghormati Kristus, menjadi
seperti Dia, dan bekerja bagi Dia, adalah ambisi tertinggi dalam hidup dan
kegembiraan yang paling besar.”* Rasul
Paulus belajar rahasia hidup. Dan kita
juga bisa.
Hubungkan
Steps to Christ/Kerinduan Segala Zaman, “Rejoicing in the Lord,” hal. 115‒126.
Hal Urban, Positive Words, Powerful Results (New York: Simon and Schuster,
2004), hal. 57-65.
____________
*Steps to Christ/Kerinduan
Segala Zaman, hal. 297.
Renee Coffee, Gobles, Michigan, U.S.A.